kitab riyadul badiah bab puasa
Malampenuh berkah H ke 8,بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِAssalamu'alaikum warahmatullaahi wabarokatuh. *Marhaban Ya Ramadhon.*- *Jumpa lagi Bersama MW
GaleriKitab Kuning | Kitab riyadul badi’ah adalah salah satu kitab klasik yang dikarang oleh Syekh Muhammad Hasbullah yang berisi tentang ilmuh fikih yang dibingkai dengan tasawuf sebagai penuntun hamba Allah Swt. menuju budi
Belikoleksi Kitab Riyadul Badiah online lengkap edisi & harga terbaru November 2021 di Tokopedia! ∙ Promo Pengguna Baru ∙ Kurir Instan ∙ Bebas Ongkir ∙ Cicilan 0%.
PuasaRamadhan itu hanya diwajibkan pada setiap orang Mukallaf, - yaitu balig yang berakal sehat - yang akan mampu melakukannya, secara kenyataan dan syara'. Karena itu, tidak diwajibkan berpuasa bagi anak kecil, orang gila dan orang yang tidak mampu melakukannya, karena 'telah lanjut usia atau sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya.
BabPuasa dalam Kitab Bidayatul Hidayah. Pengajian Bidayatul Hidayah kali ini penjelasan puasa diKitab Bidayatul Hidayah Karya Imam Ghozali. Pengajian ramadhan ini diuraikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah KH. Subhan Makmun, Desa Luwungragi, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes. Sabtu (9/05/2020).
Top 10 Des Sites De Rencontres En France. Galeri Kitab Kuning Kitab riyadul badi’ah adalah salah satu kitab klasik yang dikarang oleh Syekh Muhammad Hasbullah yang berisi tentang ilmuh fikih yang dibingkai dengan tasawuf sebagai penuntun hamba Allah Swt. menuju budi pekerti yang sempurna yang berdasarkan tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah yang benar-benar dapat dijadikan sebagai modal dasar untuk mengetahui hukum-hukum fikih yang satu ini meskipun cukup ringkas, namun banyak dipelajari di pesantren-pesantren dan lembaga Islam, khususnya bagis santri-santri Juga Download Terjemah Kitab Fathul Mu'in LengkapHal tersebut, juga disebabkan karena tatanan bahasanya yang cukup mudah dipahami, sehingga tidak menyulitkan bagi yang baru memulai belajar fikih Madzhab Syafi'i.Isi Kandungan Kitab Riyadhul Badi'ahPembahasan dalam kitab Riyadhul Badi'ah, secara umum terbagi dalam beberapa kategori pembahasan, yaitu Pembahasan BersuciPembahasan tentang ShalatPembahasan tentang JenazahPembahasan tentang ZakatPembahasan tentang PuasaI'tikafHaji dan UmrahKurban dan AqiqahSumpah dan lain para ustadz, ataupun santri yang membutuhkan Kitab Riyadhul Badi'ah ini, untuk memperdalami fikih Madzhab Syafi'i sedari awal, anda bisa mengunduhnya pada link di bawah ini sudah dilengkapi dengan makna ala Pesantren, atau Makna jawa, sehingga bisa dipastikan dapat membantu, dan pastinya bisa mempermudah dalam membaca dan Matan Kitab Riyadhul Badi'ah dengan Makna Pesantren ini, bisa bermanfaat untuk kita semua, amin.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Pengajian Bidayatul Hidayah kali ini penjelasan puasa diKitab Bidayatul Hidayah Karya Imam Ghozali. Pengajian ramadhan ini diuraikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah KH. Subhan Makmun, Desa Luwungragi, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes. Sabtu 9/05/2020. Dijelaskan oleh KH. Subhan, Tidak selayaknya engkau mencukupkan diri hanya dengan berpuasa di bulan Ramadhan saja, lalu meninggalkan perniagaan dengan amalan-amalan sunnah dan meninggalkan usaha untuk menggapai derajat yang tinggi di surga hal itu yang kau lakukan maka engkau akan menyesal tatkala menyaksikan kedudukan yang dicapai oleh orang-orang yang berpuasa, yang tampak laksana bintang-bintang yang gemerlapan. Dan mereka berada di tempat yang tertinggi di dalam surga. Siapa pun yang berpuasa di dalamnya akan memperoleh pahala yang sangat banyak adalah hari Arafah 9 Dzulhijjah bagi yang tidak sedang menunaikan haji, hari Asyura 10 Muharram, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, sepuluh hari pertama bulan Muharram, puasa bulan Rajab dan bulan Sya'ban. Dokpri Kyai subhan menyarankan, berpuasalah saudara diluar ramadhan, karena puasa ramadhan itu adalah modalnya dan sunnahnya itu ibarat persenan atau untung. Puasa harus dijadikan kekuatan bagi mereka yang melakukannya. Puasa itu ada yang satu tahun ketemu, sebulan, seminggu ketemu, apa saja, dijelaskan sama KH. Subhan, Berpuasa di bulan-bulan haram mulia adalah sangat utama. Bulan-bulan haram itu adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Yang satu menyendiri sedangkan yang lain berurutan. Hal ini berlaku dalam satu pun dalam setiap bulan waktu yang disunnahkan puasa adalah di awal bulan, pertengahan, dan akhir bulan. Kemudian al-Ayyam al-Bidh, yakni tanggal 13, 14 dan 15 pada setiap bulan hijriyyah. Sedangkan dalam setiap minggu waktu yang disunnahkan puasa adalah hari Senin, Kamis dan Jumat. Mereka yang ahli puasa, maka ucapan mereka akan ditaati, karena para ulama yang berdakwah itu sebenarnya saat masih mudanya itu rutin menjalankan puasa, takut kepada Allah dan Wirai dan tawadhu, maka dakwahnya bermafaat, dan semua perkataan yang disampaikan akan diterima, jika dakwahnya bagus dan sesuai kriteria dai maka jamaahnya akan mentaati apa yang disampaikan bahasa jawanya nurut dengan pitutur. Namun sebaliknya, bila mereka yang jarang puasa kemudian berda'i kemudian perkataanya tidak ditaati oleh jamaahnya itu karena perkataannya seringkali tidak dilakukannya. Misalnya ahli puasa senin kamis, kemudian dakwah lewat ayo puasa senin kamis selama 3 tahun maka saat mengajak orang lain akan di taati, lah belum pernah puasa senin kamis malah ngajak puasa, malah bertambah jauh artinya tidak ditaati. Dalam menentukan awal puasa harus lewat sidang dan mereka bersaksi atau disumpah para panitia penentuan awal puasa, makanya Kementerian agama dalam menentukan awal puasa dan akhir puasa melalui sidang isbat, ada hujjahnya terkait bab itu, jadi jangan sekali-kali menentukan satu ramadhan keliru, maka saat akhir ramadhan ditambahkan, apabila tidak terlihat hilal. Kemudian jika ada orang yang musyafir ke beberapa negara, maka harus mengikuti jadwal buka puasa atau saurnya di negara itu, misalkan kita puasa di indonesia, kemudian puasa, ternyata waktu di saudi belum buka, maka kita harus ikuti puasa waktu saudi atau waktu setempat bukan waktunya jadwal Indonesia. 1 2 Video Pilihan
Kitab al-Riyadh al- Badi’ah fi Ushul al- Din wa Ba’dh Furu’ al-Syari’ah ala Mazhab al-Imam al-Syafi’i الرياض البديعة في أصول الدين وبعض فروع الشريعة على مذهب الإمام الشافعي adalah sebuah kitab yang ringkas mukhtasar mengenai akidah dan fiqh berdasarkan mazhab Syafi’i. Kitab ini disusun oleh Syaikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Syafi’i al-Makki 1233-1335H /1817-1917M, seorang ulama terkenal di Makkah al-Mukarramah pada zamannya[1]. Ramai para ulama dari Nusantara yang menjadi murid beliau. Kandungan kitab al-Riyadh al- Badi’ah dimulai dengan penerangan ringkas mengenai bidang akidah dan dikuti dengan perbahasan ringkas mengenai bidang fiqh seperti thaharah bersuci, solat, jenazah, zakat, puasa, haji dan umrah, sumpah dan nazar. Kandungan kitab ini diakhiri dengan penerangan ringkas mengenai bidang tasawuf. Kitab ini pernah dicetak pada tahun 1317H oleh Percetakan al-Maymanah, Kaherah – Mesir, dengan ketebalannya sebanyak 63 halaman. Syarah bagi kitab al-Riyadh al- Badi’ah Kitab al-Riyadh al-Badi’ah, kemudiannya telah diberikan huraian syarah oleh murid[2] penyusunnya, iaitu al-Allamah Syaikh Muhammad Nawawi bin Arabi al-Bantani al-Jawi 1230-1314M / 1813-1879M melalui karyanya berjudul al-Tsimar al-Yani’ah fi Syarh ala Riyadh al- Badi’ah الثمار اليانعة المنيعة في شرح الرباض البديعة Dalam huraiannya Syaikh Muhammad Nawawi menghuraikan teks akidah yang terdapat dalam kitab asalnya dengan merujuk kepada pandangan Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah, aliran al-Asya-irah. Manakala huraian dalam bidang fiqh, ternyata lebih meluas dengan merujuk kepada pandangan para ulama mazhab Syafi’i. Cetakan pertama kitab ini telah dicetak oleh Percetakan al-Bahiyah, Mesir, pada bulan Syaaban 1299H/1882M dan diulang cetak di Bulaq pada tahun 1302H/ 1884M, di al-Maimanah pada tahun 1308H/1889 M, dan di al-Jamaliyah pada tahun 1329H/1911M dan ia turut dicetak juga oleh Percetakan Mustafa al-Bab al-Halabi, Mesir pada tahun 1342H/1923M. Kitab al-Riyadh al- Badi’ah boleh dimuat turun di sini / sini. Semoga bermanfaat. [2] Berdasarkan tahun kelahiran kedua-dua tokoh ini, usia Syaikh Muhammad Nawawi 1230H lebih tua sedikit daripada gurunya Syaikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah 1233H. Bahkan Syaikh Muhammad Nawawi wafat lebih awal iaitu pada tahun 1314H berbanding Syaikh Muhammad Hasbullah pada tahun 1335H. Perkara ini tidak menafikan hubungan mereka antara guru dan murid kerana dari aspek keilmuan, usia tidak menjadi ukuran. Melihat kepada senarai guru kedua-dua tokoh ini, mereka berdua pernah menjadi murid kepada beberapa guru yang sama. Dapat disimpulkan di samping hubungan mereka sebagai guru dan murid, mereka juga sebenarnya adalah sahabat seperguruan.
كتاب الصيام لا يجب صوم رمضان إلا على المسلم البالغ العاقل القادر على الصوم الطاهر من الحيض والنفاس، وإذا تم شعبان ثلاثين يوماً أو رأى الهلال عدل وثبت عند القاضي وجب الصوم على عموم الناس فإن لم يثبت عنده وجب على الرائي وعلى من صدقه puasaTidak wajib puasa Romadon kecuali terhadap orang islam yang balig, yang berakal, yang kuasa/ kuat untuk puasa, yang suci dari haid dan nifas. Apabila sempurna hitungan bulan Sya'ban yaitu 30 hari, atau orang adil telah melihat hilal bulan tanggal 1 dan ditetapkan oleh kadi/hakim pemberi keputusan menggunakan dalil agama/mujtahid maka wajib-lah puasa terhadap umumnya manusia, apabila kadi tidak menetapkan maka puasa wajib terhadap orang yang melihat hilal dan orang yang mempercayainya saja. فصل وشروط صحة الصوم ستة الأول الإسلام. والثاني التميـيز. والثالث النقاء من الحيض والنفاس جميع النهار والرابع النية وتصح نية صيام التطوع قبل الزوال بشرط أن لا يتعاطى مفطراً قبلها وقوعهما في الليل أفضل، ويجب في صيام الفريضة تعيـينه ووقوع نيته في جزء من الليل والأفضل وقوعها في الثلث الأخير. والخامس الإمساك عن المفطرات كلها من الفجر إلى الغروب. والسادس دخول الوقت أو وجود السبب في صوم sahnya puasa ada enam pertama ialah islam. kedua pintar sudah bisa membedakan yang baik dan buruk, bukan orang gila bukan bocah yang belum pintar. ketiga suci dari haid dan nifas disepanjang siang. keempat ialah niat, sah niat puasa sunah sebelum tengah hari dengan syarat ia belum melakukan/mendapati yang membatalkan puasa sebelum tengah hari itu, wajib pada puasa fardu untuk menyatakan fardu dan menjatuhkan/menterjadikan niatnya disebagian dari malam, utamanya menjatuhkan niat di sepertiga malam yang akhir. kelimanya ialah menahan diri dari yang membatalkan semua yang membatalkan dari fajar sampai terbenam matahari. keenam ialah adanya sebab pada puasa fardu. فصل والمبطلات للصوم عشرة الأول دخول شيء من أعيان الدنيا ولو قليلاً إلى الجوف عمداً إن دخل من أحد المنافذ المفتوحة. الثاني القيء عمداً وإن لم يرجع منه شيء إلى الجوف. الثالث الجماع عمداً ولو بغير إنزال الرابع خروج المني بتعمد الاستمناء أو المباشرة ولو بغير جماع كخروجه باللمس والمعانقة والقبلة بلا حائل.الخامس الجنون ولو لحظة يسيرة. السادس الإغماء من الفجر إلى الغروب.السابع الإفطار قبل أن يتحقق غروب الشمس أو يغلب على ظنه غروبها إذا لم يتبين له الحال. الثامن طرو الردة والعياذ بالله تعالى. والتاسع طرو الحيض أو النفاس. العاشر الولادة المصحوبة بالبلل، ومن أفطر عامداً في رمضان أو نسي فيه النية ليلاً وجب عليه الإمساك بقية النهار، وكذا من تبين له ثبوت رمضان أثناء يوم yang membatalkan puasa ada sepuluh masuknya sesuatu dari ain-ain dunia benda-benda didunia ini walaupun sedikit masuknya kedalam tubuh secara sengaja bila masuknya dari salahsatu lobang tubuh yang terbuka. muntah-muntah disengaja walau tidak masuk kembali dari muntah-muntah sesuatu pun kedalam tubuh. ; jima bersetubuh secara sengaja walau dengan tidak mengeluarkan mani. keluarnya mani/sperma dengan sebab sengaja berupaya mengeluarkan mani onani atau sebab bersentuhan kulit laki-laki perempuan walau dengan bukan jima, seperti keluarnya mani dengan sebab bersentuhan, berpelukan, dan ciuman tanpa penghalang. gila walau sekilas yang sebentar. pingsan dari fajar hingga matahari terbenam. ia orang yang puasa berbuka sebelum nyata jelas matahari terbenam atau ia kuat dugaanya terhadap terbenamnya matahari pabila keadan yang ada tidak nyata demikian. datangnya murtad, kita berlindung pada Allah ta'ala dari murtad. kedatangan haid atau nifas. melahirkan disertai basah. Barangsiapa berbuka/membatalkan puasa sebelum waktunya secara sengaja dibulan romadon atau ia lupa niat dimalam hari pada bulan romadon maka wajib padanya menahan diri dari yang merusak puasa disisa siangnya. Begitu pula pada orang yang telah nyata baginya ketetapan masuknya bulan romadon ditengah-tengah hari syak hari ragu-ragu apakah sudah romadon atau belum.فصل لا يفطر الصائم بوصول شيء إلى جوفه من أعيان الجنة مطلقاً، ولا من أعيان الدنيا إن وصل إليه بغير الاختيار أو مع النسيان ولا بالجماع ولا بخروج المني كذلك ولا بالقيء قهراً إذا لم يرجع منه شيء إلى الجوف، ولا بالنخامة إذا جرت إلى جوفه قهراً عنه، ولا بالاكتحال والأدهان وإن وجد طعم الكحل والدهن في حلقه، ولا بدخول الذباب والبعوض وغبار الكنس والغربلة في جوفه وإن أمكنه أن يتجنب ذلك، ولا يبلع الريق الخالص من معدنه، ولا يسبق ماء المضمضة والاستنشاق إلى جوفه إذا لم يبالغ فيهما وكان السبق في واحدة من المرات الثلاث، ولا بالنوم وإن استغرق النهار كله، ولا بالإغماء إذا أفاق لحظة في النهار بشرط أن توجد منه النية في وقتها، ولا بالفصد والحجامة، ولا يصح صيام العيدين ولا يوم من أيام التشريق الثلاثة مطلقاً ولا صيام يوم الشك، ولا يوم من النصف الثاني من شعبان إلا إذا صام ذلك عن فريضة أو وافق عادة له أو وصل صومه بصوم شيء من النصف الأول ولو باليوم الخامس عشر. ويحرم على الصائم القبلة والمعانقة ونحوهما إن تحركت بذلك شهوته، ويسن له تعجيل الفطر وتأخير السحور والاغتسال عن الحدث الأكبر قبل الفجر والإفطار على التمر إن تيسر وإلا فعلى شيء حلو كذلك وإكثار الدعاء خصوصاً عند الإفطار، وإكثار القرآن والصدقة في له الفصد والحجامة ومضغ العلك وذوق الطعام والمبالغة في المضمضة والاستنشاق والقبلة ونحوها إذا لم تتحرك بهما شهوته. وليصن نفسه عن الشهوات والغيبة والنميمة وكل قول أو فعل batal orang yang puasa dengan sebab sampainya/masuknya sesuatu kedalam tubuhnya sesuatu tersebut berupa dari ain-ain surga secara umum, tidak batal pula sesuatu tersebut berupa dari ain-ain dunia bila masuk kedalam tubuhnya bukan dengan kehendak dia alias terpaksa atau karena lupa, tidak batal dengan sebab jima' tidak batal pula dengan sebab keluar mani seperti itu sebab terpaksa atau lupa. Tidak batal dengan sebab muntah-muntah terpaksa/tak tertahankan apabila tidak ada sesuatu yang kembali masuk dari muntahan itu kedalam tubuh. Tidak batal dengan sebab dahak yang berjalan masuk kedalam tubuhnya secara tidak tertahankan darinya. Tidak batal dengan sebab pakai celak mata dan pakai minyak walaupun didapati rasa celak mata dan minyak ditenggorokannya. Tidak batal dengan sebab masuknya lalat, nyamuk, debu akibat menyapu, dan debu akibat mengayak semacam tepung, kedalam tubuh walau dapat memungkinkan menghindari debu itu. Tidak batal dengan sebab ludah yang bersih dari perutnya. Tidak batal dengan sebab kelepasan/ keterlanjuran air berkumur dan air istisyaq memasukan air ke hidung saat wudu, kelepasan masuk kedalam tubuhnya bila ia tidak keterlaluan pada keduanya dan adanya kelepasan itu pada salah satu saja dari tiga kali, tidak batal dengan sebab tidur walau menghabiskan siang seluruhnya, tidak batal dengan sebab pingsan bila tersadar sejenak pada siang hari dengan syarat didapati niat dari orang yang pingsan itu diwaktunya, tidak batal dengan sebab pantik/ bekam, canduk semacam bekam.Tidak sah puasa dua hari raya, tidak sah puasa dihari dari hari-hari tasyrik yang tiga secara umum, tidak sah puasa hari syak hari ketiga puluh bulan sya'ban bila para manusia membicarakan telah melihat hilal dan tidak diketahui siapa yang melihatnya dan tak seorang pun mau bersaksi, tidak sah puasa hari dari separuh kedua bulan sya'ban kecuali bila puasanya hari tersebut untuk puasa fardu atau hari itu bertepatan dengan kebiasaan hari ia berpuasa, atau ia menyambungkan puasa hari itu terhadap suatu puasa dari separuh bulan yang pertama walau dengan hari ke limabelas. Haram terhadap orang yang puasa berciuman, berpelukan, dan semacamnya bila itu semua dapat menggerakkan sahwatnya. Sunah bagi orang yang puasa menyegerakan berbuka, mengakhirkan makan sahur, mandi dari hadats besar sebelum fajar, berbuka dengan kurma bila mudah didapat bila tidak mudah maka dengan sesuatu yang manis seperti itu bila mudah didapat, memperbanyak do'a khususnya ketika berbuka, memperbanyak baca Alqur'an, memperbanyak sedekah dibulan Romadon. Makruh bagi orang yang puasa melakukan bekam mengeluarkan darah yang kotor orang yang memilii penyakit,, pantik dan bekam canduk tujuannya sama seperti bekam pantik caranya yang berbeda, keduanya dapat melemahkan puasa, mengunyah-ngunyah tanpa menelan sesuatu yang dikunyah, mengicipi makanan tidak ditelan, keterlaluan dalam berkumur dan istinsyak mengisap air pake hidung ketika wudu, berciuman dan semacamnya bila dengan nya syahwatnya tidak bergerak. Dan hendaknya ia orang yang puasa menjaga dirinya dari segala keinginan yang tidak membatalkan puasa tapi tidak pantas untuk orang yang puasa, dan dari ghibah ngomongin orang, dari namimah adudomba/ ngojok-ngojokin orang, dan dari setiap perkataan dan perbuatan yang buruk. فصل الطاعن في السن والمريض الذي لا يرجى له الشفاء إذا أفطرا في رمضان يلزم كلّاً منهما مد طعام لكل يوم ولا قضاء عليهما، ويجب على الحائض والنفساء الإفطار في رمضان وغيره، ويجوز في رمضان للمسافر إذا كان سفره طويلاً جائزاً ولو قدر على الصوم، والأفضل له أن يصوم إذا لم يحصل له مشقة، ولا يجوز للمريض إلا إذا حصلت له مشقة شديدة بالصوم، ويجوز للحامل والمرضع إذا خافتا في الصوم على أنفسهما أو على أولادهما، ويجب القضاء على هؤلاء كلهم، وإذا فات الصوم بغير عذر وجب قضاؤه على الفور، فإن فات بعذر وجب قضاؤه على التراخي وإلا فضل yang tua renta diumur yang tidak kuat puasa, dan orang yang sakit yang tidak ada harapan sembuh, bila mereka berdua buka tidak puasa dibulan Romadon maka wajib terhadap mereka berdua mengeluarkan satu mud kurang lebih satu liter beras makanan untuk tiap hari, mereka tidak mesti mengqodo, wajib terhadap orang haid dan orang nifas untuk tidak puasa dibulan romadon dan bulan lainnya. Dibolehkan tidak puasa dibulan Romadon bagi musafir orang yang berpergian bila berpergiannya jauh, dan bepergian yang dibolehkan bukan yang diharamkan walau ia mampu untuk puasa, utamanya baginya untuk berpuasa bila ia tidak mendapati kepayahan, tidak diperbolehkan tidak puasa bagi orang yang sakit kecuali bila ia mendapati kepayahan yang sangat dengan sebab puasa. Dibolehkan tidak puasa bagi orang yang hamil dan orang yang menyusui bila mereka berdua takut/khawatir dari sebeb puasa terhadap diri mereka atau terhadap anak-anak mereka [ sama juga demikian bagi pemanen pertanian, kuli, ABK, para pekerja berat, penyelamat orang tenggelam], dan wajib mengqodo puasa terhadap mereka semua yaitu mereka orang haid, orang nifas, musafir, orang sakit yang ada harapan sembuh, orang hamil, orang menyusui, dan yang menyerupai mereka seperti pekerja berat. Apabila puasa tertinggal dengan tanpa udzur maka wajib mengqodoinya segera, bila tertinggalnya dengan adanya udzur maka kewajiban mengqodoinya tidak mesti segera, yang utamnya disegerakan. فصل من فاته صيام من رمضان بعذر ومات قبل أن يتمكن من قضائه فليس له تدارك، فإن مات بعد التمكن من القضاء فإما أن يصوم عنه وليه وإما أن يطعم عنه مداً لكل يوم، ومن لزمه قضاء شيء من رمضان وأخره بغير عذر حتى جاء رمضان الآخر وجب عليه مع القضاء لكل يوم مد من طعام، ويتكرر المد بتكرر السنين، وكذا يجب المد مع القضاء على الحامل والمرضع إذا أفطرتا للخوف على أولادهما فقط، ومن أفطر بالجماع في نهار رمضان يعزر وتجب عليه الكفارة العظمى وهي عتق رقبة مؤمنة سليمة من العيوب فإن لم يجد فصيام شهرين متتابعين فإن لم يستطع فإطعام ستين مسكيناً لكل منهم مد من telah tertinggal suatu puasa dari bulan Romadon dengan udzur dan ia mati sebelum memungkinkannya dia mengqodoi puasa, maka tidak ada untuknya mengganti dengan pidyah atau dengan qodo, bila ia mati setelah memungkinkan dapat mengkodo, maka adakalanya berpuasa untuk nya wali dia, dan adakalanya wali dia memberi makan dari dia, ukuran satu mud untuk setiap hitungan hari. Barangsiapa memiliki kewajiban qodo sesuatu dari puasa romadon dan ia mengakhirkan qodo itu tidak mengkodo puasa dengan tanpa udzur hingga telah datang romadon berikutnya, maka wajib terhadap dia mengeluarkan satu mud makanan beserta qodo tiap hitungan hari, hitungan mud berulang berlipat ganda dengan berulangnya berkali lipatnya hitungan tahun. Demikian pula wajib mengeluarkan satu mud serta qodo terhadap orang hamil dan orang menyusui bila mereka berdua buka tidak puasa karena khawatir terhadap anak-anak mereka saja, barangsiapa membatalkan puasa dengan jima disiang bulan romadon, maka ia dihina/dipermalukan, dan wajib terhadapnya kifarat udhma yaitu memerdekakan budak islam yang tak memiliki cacat, bila ia tidak menemukannya maka ia puasa dua bulan berturut-turut, bila ia tidak sanggup maka ia memberi makan 60 orang miskin setiap salah satu dari mereka diberi satu mud الاعتكاف سنة مؤكدة ولا يصح إلا في المسجد بالنية وأقله لحظة تزيد على طمأنينة الصلاة وتطلب المواظبة عليه كلما دخل المسجد خصوصاً في رمضان وفي العشر الأواخر منه أفضل لطلب ليلة القدر. ويبطله الجماع والسكر عمداً والكفر والجنون والحيض والنفاس والخروج من المسجد بلا عذر إلا إذا أطلقه في النية وخرج من المسجد عازماً على الرجوع I'tikaf itu sunah muakkad, i'tikaf tidak sah kecuali didalam masjid dengan niatnya. Paling sedikitnya paling singkatnya i'tikaf ialah sebentar yang lebih dari thuma'ninah solat. Dianjurkan menselalukanya bila masuk masjid khususnya pada bulan Romadon dan pada sepuluh akhir dari bulan Romadon, utamanya karena untuk mendapatkan lailatul qadar. Hal-hal yang membatalkannya ialah jima', mabuk disengaja, kufur, gila, haid, nifas, dan keluar dari masjid dengan tanpa udzur kecuali memutlakan i'tikaf diniatnya dan ia keluar dari masjid dengan tekad akan kembali lagi ke masjid.
Keutamaan bulan Ramdhan tidak diragukan lagi. Banyak hadis-hadis Nabi, kisah orang-orang shaleh, dan berbagai riwayat lainnya; berbicara soal keistimewaan bulan mulia ini. Bulan Ramadhan juga tidak luput dari tangan dingin’ para ulama; ada banyak sekali ulama yang menuliskan pembahasan khusus seputar puasa, dari mulai pendekatan fikih maupun tasawuf, juga dari mulai kitab risalah kecil sampai kitab tebal dengan pembahasan lintas mazhab. Adalah kitab Is’afu Ahlil Iman bi Wadza’if Syahri Ramadhan, sebuah kitab kecil yang secara khusus dijasikan untuk mengupas hal-hal seputar puasa. Kitab ini ditulis oleh Syekh Hasan Al-Masyath, ulama kelahiran Makkah yang dijuluki Syaikhul Ulama gurunya para ulama. Sekilas tentang Penulis Kitab itu ditulis oleh Syekh Hasan Muhammad al-Masyath 1337-1399 H. Seorang ulama besar kelahiran Mekah, 3 Syawal 1317 H. Beliau dijuluki sebagai Syaikhul Ulama gurunya para ulama. Sebagaimana julukannya, Syaikhul Ulama, beliau berhasil mencetak ulama-ulama besar, baik dari dalam maupun luar negeri. Di antara murid beliau adalah Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki ulama pakar hadis yang fatwa-fatwanya banyak menjadi rujukan, Maulana Syekh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid salah satu ulama besar Indonesia dari Lombok Timur, juga pendiri Nahdlatul Wathan dan tarekat Hizib Nahdlatul Wathan, Syekh Yasin bin Isa al-Fadani ulama Indonesia yang dijuluki Musnid al-Ashr pemegang sanad keilmuan pada masanya, dan masih banyak lagi. Tentang Is’afu Ahlil Iman bi Wadza’if Syahri Ramadhan Kitab setebal 127 halaman ini secara khusus membahas seputar puasa Ramadhan. Sebagaimana kitab-kitab sejenis pada umumnya, kitab ini berisikan hadis-hadis Nabi seputar puasa. Kitab ini terdiri dari 82 pembahasan. Menariknya, setiap bab tidak hanya menyajikan hadis-hadis terkait, tetapi juga diberi catatan ta’liq yang padat dengan penjabaran yang luas. Berikut beberapa kelebihan kitab ini 1 Bab yang disajikan lengkap Jika diklasifikasikan, dari 82 pembahasan seputar puasa, kitab ini menjelaskan pembahasan puasa dengan pendekatan fikih dan keutamaan fadha’il. Dari kajian fikih, seperti penetapan tanggal satu Ramdahan dan satu Syawal; baik dengan hisab ataupun ru’yatul hilal, larangan puasa wishsal menyambung puasa tanpa berbuka, ketentuan waktu sahur, dan lain-lain. Sementara kajian puasa dari pendekatan keutamaan fadha’il, seperti keutamaan sahur, keutamaan berpuasa Ramadhan di Mekah, anjuran menyegerakan berbuka, dan lain-lain. 2 Penguraian hadis yang padat dan berisi Dalam menjabarkan hadis yang termuat dalam setiap babnya, Syekh Al-Masyath menjabarkannya dalam bentuk catatan ta’liq secara padat dan berisi. Contoh saja saat menjelaskan salah satu keutamaan orang berpuasa dengan mengutip hadis di bawah ini كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ Artinya “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya.” Jika kita pahami hadis ini secara tekstual, tentu akan janggal. Bukannya semua amal ibadah akan dibalas oleh Allah? Bukan hanya ibadah puasa. Shalat, zakat, haji dan ibadah lainnya pasti akan Allah balas. Mengapa redaksi hadis di atas seolah menegaskan bahwa hanya puasa yang Allah balas? Menurut Syekh Al-Masyath, hadis ini menunjukkan bahwa ibadah puasa lebih unggul dibanding ibadah lainnya dengan beberapa argumen berikut Pertama, puasa adalah ibadah yang tidak terlihat secara gerakan, berbeda dengan ibadah pada umumnya. Jika kita misal shalat, zakat ataupun haji, maka ibadah yang kita lakukan pasti terlihat orang; saat kita melakukan shalat, gerakan shalat kita memperlihatkan kita sedang shalat. Saat sedang menunaikan zakat, orang lain melihat kita melakukan zakat. Pun saat kita haji, orang lain melihat bagaimana kita melakukan ibadah tersebut. Lain halnya dengan berpuasa. Ketika seseorang berpuasa, tidak ada gerakan yang menunjukan kita sedang berpuasa. Contoh sederhananya, saat kita melihat dua orang berdampingan duduk, mereka tidak minum atau makan. Satu sedang berpuasa dan yang satu tidak. Apa kita bisa menebak mana yang puasa dan mana yang tidak? Sulit, bukan? Karena ibadah puasa tidak terihat secara eksplisit oleh orang lain, maka sulit untuk terjerumus dalam sifat pamer ibadah riya. Jika pun sengaja pamer puasa, hanya mampu diungkapkan dalam kata-kata saja. “Saya sedang puasa. loh,” dengan tujuan pamer, misalkan. Tidak bisa diungkapkan dalam sebuah gerakan. Berbeda dengan ibadah-ibadah yang lainnya. Kedua, puasa adalah ibadah yang mampu mengekang syahwat dengan sebab meninggalkan makan dan minum. Sementara syahwat adalah pintu utama bagi syaitan. Hal ini menjadikan puasa memiliki nilai lebih dibanding ibadah umumnya. Ketiga, hanya Allah yang mengetahui bobot pahala ibadah puasa. Berbeda dengan ibadah lainnya, pahalanya sudah diberitahukan penggandaan 10 sampai 700 kali lipat, sampai yang Allah kehendaki. Keempat, balasan orang yang berpuasa adalah berjumpa dan berbincang langsung dengan Allah swt di akhirat kelak, tanpa ada penghalang apapun. Sementara ibadah selain puasa, pahalanya adalah surga. Tentu, berjumpa dengan Allah swt adalah nikmat paling agung, lebih agung daripada nikmat mendapat surga dan seisinya. hal. 33-34 3 Menyampaikan Syair-Syair Kelebihan lain yang dimiliki kitab Is’afu Ahlil Iman bi Wadza’if Syahri Ramadhan adalah penyampaian syair yang berkaitan dengan bab yang dibahas. Tentu, ini menjadi nuansa sastra tersendiri dan tidak tidak membuat jenuh pembaca. Tidak monoton penjelasan dalam bentuk teks biasa saja. Contoh saja saat menjelaskan kutipan hadis berikut عَنْ أَبِي هريرة قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إَّلا الْجُوْعِ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَر رواه النسائي Artinya, “Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat pahala puasa kecuali hanya lapar dan haus saja. Berapa banyak orang yang bangun malam, tidak mendapat pahala kecuali hanya bangun malam.’” HR An-Nasai. Syekh Al-Masyath mengutip syair berikut إِذَا لَم يَكُنْ فِي السَّمْعِ مِنِّي تَصَاوُنٌ وَفِي بَصَرِي غَضٌّ وَفِي مَنْطِقِي صَمْتُ فَحَظِّي إِذَنْ مِنْ صَومِيَ الجُوعُ وَ الظَّما فَإِنْ قُلْتُ إِنِّي صُمْتُ يَومِي فَمَا صُمْتُ Jika saat puasa, pendengaranku, pandanganku dan ucapanku tidak dijaga. Maka tidak ada yang aku peroleh kecuali lapar dan dahaga. Aku bilang aku puasa, padahal tidak. hal. 45 Peresensi adalah Muhammad Abror, Mahasantri Sa’idusshiddiqiyah Jakarta, alumnus Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon Identitas Kitab Judul Is’afu Ahlil Iman bi Wadza’if Syahri Ramadhan Penulis Syekh Hasan Muhammad Al-Masyath Tebal 172 halaman Cetakan Keempat, 1972
kitab riyadul badiah bab puasa